Skip to main content

Posts

NGAYAL

"Ada pesenan buku lagi, Bang?" Sambil nyuapin si kecil makan, istri bertanya padaku. Aku mengangguk sembari tetap membungkus buku pakai kertas kado. "Kirim ke mana?" "Ke Merauke." "Papua?" "Iya, bener." Aku mengangguk lagi. "Wah, berarti buku Abang ini udah dipesan dari Sabang sampai Merauke, ya?" Istri tersenyum. "Hehe... Alhamdulillah. Udah, nih. Tinggal kirim." Aku menimang-nimang paketan berisi delapan judul buku. Lalu, tiba-tiba aku nyeletuk, "Kalau berada di zaman Daulah Umayyah dan Abbasiyah, mungkin kita bisa kaya, Neng." "Kok bisa?" Kening istri berkerut. "Soalnya masa itu adalah masa dimana negara sangat menghargai penulis. Tiap buku akan ditimbang, dicek beratnya, lalu negara akan menukarnya pakai emas seberat buku itu. Makin berat buku, makin banyak emas yang diberikan negara ke penulis. Terus buku tersebut akan jadi milik negara dan diletakkan di perpustakaan Pusat....

Ganti Dulu, kalau Tak Nepati Janji, Ganti Lagi

Tatkala membaca berita bahwa terjadi intimidasi serta penolakan terhadap Ustadz Abdul Somad (UAS) di Jawa Tengah oleh GP Ansor pada awal bulan lalu, aku sudah menduga bahwa kejadian ini akan berbuntut panjang. Kecuali penegak hukum dan negara segera hadir dan menengahi konflik ini. Sebab, kiprah dakwah UAS saat ini telah menjadi perbincangan di dunia maya. Di dunia nyata, ternyata jamaahnya luar biasa banyak. Tiap beliau diundang tausiyah di suatu daerah, butuh satu stadion bola untuk menampung seluruh jamaah yang hadir. Aku pernah ikut kajiannya saat UAS mengisi kajian di Masjid Kampus Unair C, Surabaya. Itu jamaahnya MasyaAllah. Membeludak sampai ke area parkir. Aku malah dapat jatah di sisi parkir ujung. Aku hanya bisa menatap wajah ulama dari Riau itu lewat layar proyektor. Saking padatnya jamaah. Dan berita ditolaknya UAS berceramah di Jawa Tengah, jelas menyinggung perasaan seluruh jamaah beliau, wa bil khusus masyarakat melayu Riau. Apalagi dengan alasan bahwa UAS adala...

Menjadi Suporter Berkepala Jernih

Aku menonton pertandingan itu lewat siaran televisi kemarin sore. Pertandingan bola antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Pertandingan yang disebut-sebut El-Clasiconya Indonesia. Sayangnya karena ada tamu, aku hanya menonton pertandingan itu sampai babak pertama saja. Kemudian pagi tadi aku mendengar berita bahwa setelah laga itu, terjadi pengeroyokan suporter Persib kepada suporter Persija. Nahas, korban pengeroyokan meninggal dunia. Sejarah kelam persepakbolaan Indonesia bertambah satu digit. Mari kita bayangkan, andaikata korban pengeroyokan itu adalah anak atau saudara kandung kita, tentu akan berat hati kita menerimanya. Seorang pemuda pamit ingin menonton kesebelasan kesayangan, akan tetapi pulang dengan jasad tak lagi ber-ruh. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas tragedi ini? Pertama, aku ingin menyoroti para pemain di lapangan. Pada pertandingan kemarin, tercatat ada 22 kali pelanggaran dalam kurun waktu 22 menit. Artinya, di tiap menit wasit meniu...

ES MAMBO

Ada kalanya aku dan istri marahan di rumah. Penyebabnya macam-macam. Mulai dari salah paham, sampai gara-gara salah ucap. Contoh marahan karena salah paham: Setiap orang pasti punya jadwal, maaf, beol rutin. Lain orang lain pula waktunya. Ada yang punya jadwal rutin buang hajat sebelum tidur, ada juga waktu subuh. Nah, jadwal rutinku adalah setelah sarapan. Jangan tanya kenapa, soalnya aku juga gak mau tanya pada 'si dia'. Jangankan tanya, lihat wujudnya aja aku ogah. Makanya begitu dia menampakkan diri, langsung aku banjur. Enyahlah dia dari kehidupanku. Tapi kebiasaan buang hajat setelah sarapan itu, selalu membuat istri ngambek. "Abang, aku perhatiin setiap sarapan masakan yang aku buat, langsung Abang keluarin. Abang gak suka ya masakan aku?" begitu tanya istri. "Suka, kok." "Terus kenapa dikeluarin? Abang gak cinta sama aku ya?" Aku melongo. Emang untuk membuktikan cinta, suami yang sudah makan masakan istri, gak boleh beol...

DOWNLOAD GRATIS BUKU "CINTA YANG TERSAMBUNG HINGGA KE LANGIT"

“Meski sudah lima tahun menikah dengan beliau, bahkan menyatakan diri sebagai istri yang paling dicintai dan dihormati, nyatanya aku tak pernah bisa menggantikan posisi Khadijah di hatinya. Ada kalanya aku merasa beliau tidur dengan gelisah di sampingku. Kemudian aku mendengar beliau mengigau, berbisik memanggil nama Khadijah, seiring air matanya menetes dalam tidur ketika rasa sakit memikirkan persoalan umat dalam agama ini mulai menggerogoti alam bawah sadarnya. Tak peduli berapa lama aku menikah dengannya, tak peduli berapa putra yang mungkin kupersembahkan untuknya. Lelaki itu, Muhammad yang terkasih, takkan pernah benar-benar menjadi milikku sepenuhnya.” ====== Kalimat di atas hanyalah secuplikan kecil kisah dari buku "Cinta yang Tersambung hingga ke Langit". Untuk membaca kisah lengkapnya, silakan download saja DI SINI

Download Gratis Buku "Curhat Orang Cungkring"

Sabtu lalu, aku menghadiri pernikahan seorang teman kuliah. Sesaat setelah berfoto bersama kedua mempelai, temanku --si pengantin pria-- tiba-tiba bilang, “Fit, kamu nyumbangin lagu, gih. Buat aku dan istri. Tuh, udah ada pemain organ tunggalnya.” Mataku berbinar-binar, “Beneran? Boleh?” Temanku mengangguk. Ah, dia tahu saja kalau aku suka menyumbangkan lagu. Maksudnya, membuat lagu yang awalnya merdu menjadi sumbang. Aku memang suka banget karaokean. Di dalam kamar, di kelas waktu kuliah, sampai di kandang ayam, aku nyanyi. Dan, mendapat kesempatan bernyayi di atas panggung hajatan kampung, serta ditonton banyak orang seperti ini adalah pelampiasan terbaik karena tak pernah lolos audisi menyanyi. Jangankan dinilai, baru masuk ruang audisi saja, juri sudah nyuruh aku keluar lagi, mana pakai manggil satpam segala, “Pak satpam, kok pemulung boleh masuk, sih?” Kembali ke topik ... Setelah mendapat ijin dari yang punya hajat, tanpa pikir dua kali aku langsung ke pemain organ...

DOWNLOAD GRATIS BUKU "TENTANG CINTA TENTANG KELUARGA"

Ini sedikit cuplikan salah satu kisah dari buku "Tentang Cinta Tentang Keluarga" Malam ini jatuh pada hari kelima belas, bulan kedelapan kalender masehi. Tadi, sempat kulihat langit dipenuhi gemintang berhamburan membentuk rasi-rasi, menghiasi hamparan luas tanpa batas di atas sana. Kerlap-kerlipnya nampak menggemaskan. Bulan purnama menjelma bagai permaisuri bermata jeli, cahayanya terang meneduhkan, membuat siapa pun yang melihat akan terpesona. Sepulang bekerja, seperti biasa Kak Teratai menyiapkan makan malam bagi kami --aku dan si cerewet, Lili--, menemani belajar, lalu menyuruh kami segera masuk kamar. Kak Teratai berpesan agar kami berdua cepat tidur, sebab dia sudah terlalu lelah bekerja seharian. Ia tak ingin jatah istirahatnya terdefisit akibat mendengar celotehan kami yang berisik. “Kamu tak boleh ngompol lagi!” Kak Teratai berseru, memasang mimik muka garang. “Awas, jangan coba-coba! Atau Kakak akan suruh kamu cuci sendiri semua seprei hasil ompolan ...