Skip to main content

Posts

RIBA yang ngeRIBAnget

Adalah sahabat bernama Samurah bin Jundub, yang mengabarkan sabda Nabi Muhammad saw. Pada suatu malam Nabi bermimpi ditemui oleh dua orang laki-laki, kemudian mereka membawa beliau keluar menuju tanah suci. Ketika di tengah perjalanan, Nabi melihat sebuah sungai yang airnya berasal dari darah. Di tengah sungai berwarna merah pekat tersebut ternyata ada seseorang yang merintih karena hampir tenggelam oleh darah. Di tepi sungai, nampak seorang laki-laki berdiri dengan tatapan mata tajam. Ia memegang batu tajam di tangan kanan. Orang di tengah sungai itu susah payah berenang menuju tepian. Namun saat ia akan keluar dari sungai, lelaki di tepi sungai segera melemparkan batu ke arah mulutnya hingga ia kembali ke tempat semula, di tengah sungai. Hal itu terjadi berulang-ulang. Setiap akan naik dari sungai, orang itu dilempari batu di bagian mulutnya. Dengan perasaan ngeri, Nabi bertanya pada dua orang yang membawanya, "Apa artinya ini?" Dan pertanyaan itu pun dijawab, "Or...

SINOPSIS 10 BUKU FITRAH ILHAMI

GARA-GARA GELAS Berhemat. Kata inilah yang diucapkan istri padaku secara rutin di awal pernikahan. Udah macam mantra saja. Ketika aku ingin beli makan di warung, istri menggeleng cepat. “Kita harus berhemat, Abang.” Aku mau beli roti, istri menggeleng, “Ingat, ber-he-mat!” Giliran aku bilang mau beli jus alpukat untuknya, perempuan itu menyatuhi sambil senyum-senyum gak jelas, “Baiklah, Bang. Kita gak perlu nyiksa diri dengan berhemat. Yang penting nikmati hidup ini apa adanya.” Bah! * * * Selamat datang di dunia 3G (Gara-Gara Gelas). Buku ini merupakan catatan kocak pengantin muda yang masih berjuang membangun rumah makan, eh, rumah tangga. Mulai dari awal saling kenal di dunia maya, berusaha berhemat setelah hidup bersama, sampai untuk mendapatkan gelas pun harus dengan perjuangan. Membaca setiap kisah di dalam buku ini, dijamin Anda akan tersenyum geli, bahkan terbahak-bahak. Dan mungkin Anda akan memahami bahwa berbagai masalah di da...

Provokasi yang Gagal

Aku sedang menikmati teh hangat ketika siaran di televisi memberitakan tentang penembakan seseorang kepada jamaah sholat Jumat di Christchurch, New Zealand.Diwartakan, korban meninggal dunia mencapai 49 orang. "Bagaimana mungkin?" aku tercengang. Membuat teh yang baru diseduh terasa tak menarik untuk diminum. Selera hilang total. *** Jika merujuk pada website Safe Around, Selandia Baru berada pada posisi 3 sebagai negara teraman di dunia. Persis di bawah Islandia dan Denmark yang menempati posisi pertama dan kedua secara berurutan. Maka, tragedi terorisme terhadap umat Islam yang sedang melaksanakan sholat Jumat di masjid Al-Noor dan masjid Linwood, Christchurch itu benar-benar mengguncang jiwa publik. Bagaimana mungkin tragedi ini bisa terjadi di kota setoleran dan sedamai Christchurch? Menurut kesaksian orang-orang yang sempat tinggal di sana, warga asli Christchurch sangatlah ramah terhadap pendatang. Imigran tak pernah mengalami masalah rasisme. Rakyat memiliki...

Reuni Akbar Mujahid & Mujahidah 212 - 2 Desember 2018

Laboratorium Kehidupan (Part 2)

Aku termasuk orang yang bisa menangkap perbedaan sikap seseorang jika ia ada masalah. Bukan. Aku bukan dukun santet atau pun tiang sutet, cuma bisa ngerasa aja kalau ada orang abis kecepret gelang karet. Contoh, Dulu, di awal-awal pernikahan, otak ini masih ingat waktu aku pulang dari kerja, istri akan menyambut di depan pintu kontrakan sambil tersenyum menatap wajahku yang kuyu nan kucel tertimpa debu dan asap knalpot di jalan. "Abang capek? Mau buatin teh anget?" Itu surga, Brow. Saat badanmu letih setelah bekerja dan di rumah ditawari teh anget sama istri, itu serasa di surga level kontrakan. "Iya, Neng. Aku mau teh anget." "Ya udah, minta tolong belikan teh celupnya dulu di warung ya, Bang. Terus tolong panasin air segelas. Abis itu, sekalian nanti Abang kasih gulanya. Dua sendok aja. Biar gak terlalu manis." Itu buat sendiri, Brow. Ketika Istri nawarin kamu teh anget, tapi kamu sendiri yang beli teh celupnya di warung, masak air...

Kena Tipu!

Tertipu === Aku sedang membungkus buku ketika mendengar suara beberapa remaja putri memanggil-manggil nama adikku. "Dilaaa! Dilaaa!" Sambil tetap membungkus, aku berucap, "Dil. Ada temenmu ini, Dek." Tapi bukan Dila yang keluar, melainkan Bapak. "Ada apa?" Bapak menghampiri kumpulan remaja itu di pintu. "Kami mau Dila kembaliin uang kami." Mendengar itu, aku langsung menghentikan acara bungkus membungkus. Eh, ada apa ini? Kok ada anak-anak minta uangnya dikembaliin. Apa adikku mencuri uang temannya? "Gini ya, Nak. Dila itu ditipu. Ini masih diurus di kepolisian. Jadi jangan didesak terus anaknya." Begitu ucap Bapak. Lalu terdengar salah satu anak berkata, "Ya kami gak mau tau. Itu urusannya Dila. Yang penting cepet kembaliin uang kami." Tak sampai tiga detik setelah mendengar ucapan itu, Bapak tiba-tiba berkata dengan nada keras, "Gak mau tau, Mbahmu! Kamu harus tau kalau Dila itu ditipu. Bukan dia ya...

Laboratorium Kehidupan (Part 1)

Bagiku, menikah itu persis sebuah laboratorium. Tepatnya, laboratorium kehidupan. Suami dituntut menganalisa sifat dan kebiasaan istrinya. Entah itu kebiasaan baik, atau kebiasaan istri yang bikin suami segera pergi ke apotek buat beli tiga bungkus puyer sakit kepala, saking pusingnya menghadapi kelakuan istri. Mau ndak mau, akhirnya suami harus mencari formula agar ia bisa benar-benar memahami keinginan si istri. Meski, untuk menemukan formula itu, suami harus mengalami kegagalan berkali-kali. Seperti yang terjadi padaku beberapa waktu lalu. Ketika lagi rame pendaftaran CPNS, tiba-tiba istri sering nampak cemberut. Aku sapa, dia cemberut. Aku tersenyum, dia masih cemberut. Aku tanyain dia mau apa, istri menggeleng. Aku tinggal makan bakso sendirian, dia marah sambil bilang, "Egois! Aku juga pingin bakso. Gorengannya dua. Yang pedes." Daripada dia ngambek dan nyeburin diri ke mesin cuci, ya sudah aku belikan. Hanya saja, setelah makan bakso, dia kembali cemberut...